Description
Novel SOGOK SOGOKAN, karya Seno Subro. Sogok atau suap sejatinya telah berakar kuat sejak kehidupan nenek moyang kita dulu hingga kini. Tanpa disadari praktik suap-menyuap sering terjadi di sekitar kita dalam bentuk yang amat sederhana. Anak rewel menjadi penurut karena disuap neneknya dengan pemberian gula-gula. Anak berhasil dibujuk menjalani sunat setelah disuap ayahnya dengan pemberian sepeda. Menyumbang uang saat hajatan pernikahan karena sebelumnya menerima paket makanan. Suap- menyuap dalam beragam bentuknya bisa terjadi antar individu, kelompok, organisasi, perusahaan, hingga pejabat maupun penguasa. Budaya suap yang dalam tata hubungan masyarakat, setiap hari hingga kini bisa terwujud dalam berbagai peristiwa suap berskala kecil hingga besar. Dalam naungan sistem politik yang berlaku saat ini, sogok-sogokan menemukan tempat untuk tumbuh subur, mewabah serta menggurita sesuai dengan dinamika berbagai kepentingan untuk meraih keuntungan sesaat dan jangka panjang. Saat Pemilu, lapisan masyarakat paling bawah, terutama yang kurang mampu menjadi obyek penting dalam praktik suap dalam beragam kepentingan. Peristiwa Pemilu bukan berarti mendatangkan harapan baru, janji-janji manis yang datang setiap lima tahun sekali, tak banyak membuat nasib wong cilik beranjak jauh lebih baik dari kondisi saat ini yang dialami, dan pada setiap Pemilu itu pula, diakui atau tidak, suap-menyuap mewujud dalam bentuk yang lebih nyata, sehingga ada istilah wani pira? (berani berapa?) Mereka para wong cilik, meski menjalani hidup keras dan susah payah, terus memperjuangkan nasibnya. Pada era kemajuan yang melaju kencang, mereka rela berdamai dengan nasib yang menggiringnya terpinggir, namun tetap bergulat melawan gempuran arus deras perubahan zaman. Lalu, mampukah mereka bertahan?





Reviews
There are no reviews yet.