Pembelajaran Mendalam Membangun Manusia Seutuhnya

Pembelajaran Mendalam Membangun Manusia Seutuhnya

Rp173.000,00

Konsep Pembelajaran Mendalam dapatlah dipahami sebagai strategi atau pendekatan yang menjelaskan dan mengkaji topik dengan cakupan materi sempit menjadi mendetail dari ontologinya, epistemologinya, dan aksiologinya melalui proses pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful dengan memanfaatkan teknologi, alam, dan masyarakat sebagai sumber belajar. Definisi ini dari perspektif filsafat sebagai proses mendapatkan kompetensi global dan ilmu secara mendalam dengan moral Pancasila.

Sebenarnya Pembelajaran Mendalam bukan konsep baru, melainkan merupakan pendekatan pembelajaran berfokus pada pemahaman yang lebih mendalam, bermakna, dan menyenangkan. Kita membedakan antara Pembelajaran Permukaan (Surface Learning) dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Surface Leraning, misalnya siswa hanya menghafal fakta dan informasi tanpa memahami hubungan antarkonsep. Sebaliknya, Deep learning, contohnya siswa memahami suatu konsep secara menyeluruh, mampu menghubungkannya dengan pengetahuan lain, serta menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan nyata.

Perbedaan antara pendekatan Pembelajaran Mendalam dan Permukaan diilustrasikan dalam contoh berikut. Kinara dan Ammar mengikuti mata pelajaran wajib studi geografi untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang konsep dasar ilmu geografi dan penerapannya terhadap kehidupan. Kinara sangat tertarik dengan ilmu geografi, tetapi tidak melihat manfaat pelajaran ini dalam jangka pendek atau panjang. Karena itu, ia kurang memperhatikan kelas dan belajarnya. Ia bermaksud untuk melakukan hal seminimal mungkin untuk mendapatkan nilai yang cukup dalam ujian akhir.
Sebaliknya, Ammar terpesona sekali oleh keterkaitan konsep dasar ilmu geografi dengan pembangunan regional berkelanjutan. Ia menekuni ilmu geografi dan pewilayahan, serta aplikasi masa depan pada berbagai bidang. Dia mencatat materi kunci, mengajukan pertanyaan, dan terdorong untuk mempelajari materi tambahan di luar buku teks, menghubungkan (integrasi, relasional) antarkonsep dan menerapkan dalam kehidupan dengan empati, serta menyusun konsep dari perspektif filsafat disertai dimensi manusia. Sikap Kinara merupakan contoh pendekatan Pembelajaran Permukaan, dan Ammar menunjukkan pendekatan Pembelajaran Mendalam.

Pembelajaran Mendalam kalau diterapkan dengan taksonomi signifikan di dunia pendidikan maka mampu membangun manusia seutuhnya (MS). Indikasi MS adalah alumni memiliki kompetensi global: (1) moral Pancasila, (2) kewargaan yang adabud dunya waddin dengan perilaku keindonesiaan tetapi berwawasan global, (3) kreatif, imajinatif, dan inovatif, (4) penalaran kritis interdisiplin untuk kebaikan, (5) bahasa dan komunikasi, (6) kolaborasi untuk ketertiban dunia dan kemanfaatan bersama, (7) kesehatan, (8) kemandirian, (9) penguasaan ipteks, dan (10) kesadaran geografi.

Category:

Konsep Pembelajaran Mendalam dapatlah dipahami sebagai strategi atau pendekatan yang menjelaskan dan mengkaji topik dengan cakupan materi sempit menjadi mendetail dari ontologinya, epistemologinya, dan aksiologinya melalui proses pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful dengan memanfaatkan teknologi, alam, dan masyarakat sebagai sumber belajar. Definisi ini dari perspektif filsafat sebagai proses mendapatkan kompetensi global dan ilmu secara mendalam dengan moral Pancasila.

Sebenarnya Pembelajaran Mendalam bukan konsep baru, melainkan merupakan pendekatan pembelajaran berfokus pada pemahaman yang lebih mendalam, bermakna, dan menyenangkan. Kita membedakan antara Pembelajaran Permukaan (Surface Learning) dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Surface Leraning, misalnya siswa hanya menghafal fakta dan informasi tanpa memahami hubungan antarkonsep. Sebaliknya, Deep learning, contohnya siswa memahami suatu konsep secara menyeluruh, mampu menghubungkannya dengan pengetahuan lain, serta menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan nyata.

Perbedaan antara pendekatan Pembelajaran Mendalam dan Permukaan diilustrasikan dalam contoh berikut. Kinara dan Ammar mengikuti mata pelajaran wajib studi geografi untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang konsep dasar ilmu geografi dan penerapannya terhadap kehidupan. Kinara sangat tertarik dengan ilmu geografi, tetapi tidak melihat manfaat pelajaran ini dalam jangka pendek atau panjang. Karena itu, ia kurang memperhatikan kelas dan belajarnya. Ia bermaksud untuk melakukan hal seminimal mungkin untuk mendapatkan nilai yang cukup dalam ujian akhir.
Sebaliknya, Ammar terpesona sekali oleh keterkaitan konsep dasar ilmu geografi dengan pembangunan regional berkelanjutan. Ia menekuni ilmu geografi dan pewilayahan, serta aplikasi masa depan pada berbagai bidang. Dia mencatat materi kunci, mengajukan pertanyaan, dan terdorong untuk mempelajari materi tambahan di luar buku teks, menghubungkan (integrasi, relasional) antarkonsep dan menerapkan dalam kehidupan dengan empati, serta menyusun konsep dari perspektif filsafat disertai dimensi manusia. Sikap Kinara merupakan contoh pendekatan Pembelajaran Permukaan, dan Ammar menunjukkan pendekatan Pembelajaran Mendalam.

Pembelajaran Mendalam kalau diterapkan dengan taksonomi signifikan di dunia pendidikan maka mampu membangun manusia seutuhnya (MS). Indikasi MS adalah alumni memiliki kompetensi global: (1) moral Pancasila, (2) kewargaan yang adabud dunya waddin dengan perilaku keindonesiaan tetapi berwawasan global, (3) kreatif, imajinatif, dan inovatif, (4) penalaran kritis interdisiplin untuk kebaikan, (5) bahasa dan komunikasi, (6) kolaborasi untuk ketertiban dunia dan kemanfaatan bersama, (7) kesehatan, (8) kemandirian, (9) penguasaan ipteks, dan (10) kesadaran geografi.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Pembelajaran Mendalam Membangun Manusia Seutuhnya”

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top