Description
Buku Kebijakan Kolaboratif Pariwisata Spiritual membahas dinamika tata kelola pariwisata spiritual di kawasan Borobudur melalui perspektif administrasi publik dan pembangunan berkelanjutan. Borobudur dipahami tidak hanya sebagai situs warisan budaya dunia, tetapi juga sebagai ruang spiritual multitradisi yang mempertemukan praktik keagamaan Buddhis, Islam, Katolik, serta spiritualitas lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Pembahasan diawali dengan kajian mengenai konsep Community-Based Spiritual Tourism (CBST) yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengembangan pariwisata spiritual. Selanjutnya, buku ini menguraikan pola hubungan dan kolaborasi antaraktor melalui pendekatan Collaborative Inter-Actor Governance, yang melibatkan pemerintah, lembaga pengelola kawasan, komunitas lokal, organisasi keagamaan, pelaku usaha, hingga masyarakat lintas iman.
Melalui analisis empiris yang mendalam, berbagai persoalan publik yang muncul dalam pengelolaan Borobudur diidentifikasi, mulai dari konflik kepentingan antara konservasi dan kebutuhan spiritual masyarakat, ketimpangan relasi kekuasaan, dominasi kebijakan yang bersifat top-down, hingga tantangan dalam mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif. Di sisi lain, buku ini juga menunjukkan munculnya berbagai praktik baik berupa penguatan komunitas, regenerasi nilai-nilai spiritual, inovasi wisata berbasis masyarakat, serta tumbuhnya kolaborasi lintas aktor dan lintas iman.
Pada akhirnya, buku ini menawarkan refleksi teoretis sekaligus implikasi praktis bagi pengembangan kajian administrasi publik, tata kelola kolaboratif, dan kebijakan pembangunan pariwisata. Pengalaman Borobudur menunjukkan bahwa keberlanjutan destinasi spiritual tidak hanya ditentukan oleh aspek ekonomi dan konservasi, tetapi juga oleh kemampuan berbagai aktor dalam membangun kolaborasi yang inklusif, menghormati keragaman, serta menempatkan komunitas sebagai pusat dari proses pembangunan





Reviews
There are no reviews yet.